NTT Geger: Bayi 11 Bulan Jadi Korban “Lucu-lucuan” Ayahnya Dengan Miras
NTT Geger: Bayi 11 Bulan Jadi Korban “Lucu-lucuan” Ayahnya Dengan Miras

NTT Geger: Bayi 11 Bulan Jadi Korban “Lucu-lucuan” Ayahnya Dengan Miras

NTT geger, bayi 11 bulan dicokok miras oleh ayahnya demi “lucu-lucuan”, Polisi selidiki kasus kekerasan anak ini.

NTT Geger: Bayi 11 Bulan Jadi Korban “Lucu-lucuan” Ayahnya Dengan Miras

Kejadian mengejutkan terjadi di NTT, di mana seorang ayah memberikan minuman keras kepada bayi berusia 11 bulan hanya untuk hiburan. Peristiwa Humor, Meme, dan Konten Lucu Terbaru ini memicu keprihatinan luas dan perhatian aparat kepolisian.

Ayah Di NTT Cekoki Bayi 11 Bulan Dengan Miras

Insiden mengejutkan terjadi di Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), ketika seorang ayah berinisial JNK alias Jitro memaksa bayi berusia 11 bulan mengonsumsi minuman keras jenis sopi. Aksi ini viral di media sosial karena dilakukan tanpa pertimbangan keselamatan anak pada Sabtu (14/2/2026).

Kejadian tersebut dilaporkan terjadi pada Rabu (11/2/2026) sekitar pukul 07.00 Wita di sebuah kos milik MB alias Melkisedek. Jitro bersama dua rekannya, MT alias Markus dan EN alias Epy, saat itu ikut mengonsumsi sopi dan merekam aksi memaksa bayi minum miras tersebut.

Video yang beredar memperlihatkan Jitro menggendong bayi sambil meneguk miras, yang kemudian menimbulkan kecaman luas. Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres TTS, AKP I Wayan Pasek Sujana, memastikan bahwa perbuatan itu dilakukan semata-mata untuk lucu-lucuan, tanpa memikirkan risiko bagi bayi.

Video Viral Dan Reaksi Publik

Video pemaksaan minum miras pada bayi ini dengan cepat menyebar di platform Facebook dan TikTok. Netizen mengecam tindakan tersebut, menilai perbuatan Jitro sebagai bentuk kekerasan terhadap anak dan kelalaian serius.

Sujana menegaskan, rekan Jitro, MT, yang merekam video, ikut menjadi saksi penting dalam proses penyelidikan. Masyarakat menuntut aparat kepolisian bertindak tegas demi perlindungan anak dari kekerasan dan perilaku berisiko.

Kepedulian publik meningkat karena kejadian ini menunjukkan rendahnya kesadaran sebagian orang tua akan bahaya minuman keras bagi anak-anak. Video viral itu menjadi pengingat bahwa keselamatan dan kesehatan bayi harus diutamakan.

Baca Juga: Kritik dan Humor Pandji, Pelajaran Demokrasi Yang Bisa Dipetik

Penangkapan Pelaku Dan Barang Bukti

 Penangkapan Pelaku Dan Barang Bukti 700

Setelah video viral, polisi bergerak cepat. Tim Buser dan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres TTS mendatangi kediaman Jitro di Desa Olais, Kecamatan Kuanfatu, pada pukul 15.00 Wita, Sabtu (14/2/2026).

Jitro ditangkap bersama barang bukti berupa gelas dan botol miras yang digunakan saat kejadian. Polisi juga meminta keterangan saksi yang hadir pada saat itu, termasuk rekan pelaku, guna memastikan kronologi dan mengumpulkan bukti tambahan.

Dalam pemeriksaan, Jitro mengakui perbuatannya. Namun, ia belum ditahan karena penyidik masih melakukan pendalaman kasus untuk memastikan apakah ada pelanggaran hukum lebih lanjut, termasuk potensi ancaman kesehatan bagi bayi.

Dampak Kekerasan Terhadap Anak

Tindakan memaksa bayi mengonsumsi minuman keras jelas membahayakan kesehatan fisik dan perkembangan bayi. Miras dapat menimbulkan gangguan pernapasan, kerusakan organ hati, dan masalah neurologis pada anak yang masih rentan.

Selain dampak kesehatan, tindakan tersebut juga dapat menimbulkan trauma psikologis jangka panjang bagi anak, meski ia belum memahami sepenuhnya. Praktik kekerasan terhadap anak dalam bentuk apa pun, termasuk yang dianggap lucu-lucuan, harus mendapat perhatian serius.

Para ahli menekankan pentingnya edukasi bagi orang tua terkait risiko minuman keras dan cara mendidik anak dengan aman. Kejadian ini menjadi pengingat bahwa pengawasan orang dewasa adalah kunci keselamatan anak.

Tindakan Polisi Dan Rekomendasi Perlindungan Anak

Polres TTS menegaskan akan terus mendalami kasus ini dan mengawasi perkembangan bayi korban. Jitro dikenakan wajib lapor sementara menunggu hasil pendalaman lebih lanjut. Polisi juga mendorong masyarakat melaporkan kasus serupa demi perlindungan anak.

Sujana menekankan perlunya pengawasan lebih ketat bagi anak-anak agar kejadian seperti ini tidak terulang. Selain itu, masyarakat diimbau mendidik anak secara sehat tanpa mengekspos mereka pada perilaku berbahaya atau kekerasan.

Kasus ini menjadi pelajaran bagi seluruh orang tua di NTT maupun Indonesia, bahwa humor atau “lucu-lucuan” tidak boleh mengorbankan keselamatan anak. Perlindungan anak, edukasi keluarga, dan penegakan hukum yang tegas menjadi langkah penting mencegah kekerasan serupa.


Sumber Informasi Gambar:

  • Gambar Pertama dari cnnindonesia.com
  • Gambar Kedua dari news.detik.com

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *